Menu Utama
Beranda
Tentang Kami
Produk
Kontak
Berita
Tautan
GCG & CSR
Sistem Informasi
UU No. 14 Th. 2008 (UUKIP)
Sistem Remunerasi
Mekanisme Penetapan Direksi & Komisaris
Pengadaan


 

 

Berita Terkini
Populer

 

RESIDU ANTRAKUINON: Uni Eropa Tolak Ubah Ambang Batas

Tanggal, 13 Desember 2017

Uni Eropa enggan mengubah ambang batas residu antrakuinon untuk komoditas teh meski dinilai terlalu ketat sehingga menghambat pertumbuhan ekspor RI ke kawasan tersebut.

Direktur Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan Pradnyawati menjelaskan sikap Uni Eropa (UE) tersebut disampaikan saat misi advokasi teh Indonesia ke Eropa yang berakhir pekan lalu. Dalam kesempatan itu, delegasi RI berkonsultasi dengan Directorare General Food Safety and Public Health European Commission. 

Pradnyawati mengungkapkan bahwa UE dengan tegas menyebut tidak akan untuk mengubah ambang batas residu antrakuinon (antraquinone/AQ) karena menyangkut upaya pemerintah dalam melindungi masyarakat.

Antrakuinon adalah sejenis elemen antioksidan yang memiliki faktor pembawa warna, yakni biasanya warna kekuningan atau kehijauan. Kandungan ini lazim terdapat pada berbagai jenis tanaman dan buah.

UE mempersyaratkan ambang batas residu antrakuinon dalam daun teh kering sebesar 0,02 mg/kg , dengan alasan melindungi konsumen teh dari bahaya penyakit yang bersifat karsinogenik

“Akan tetapi, pihak UE tetap terbuka menerima hasil kajian ilmiah baru yang dapat merasionalisasi bahwa ambang batas residu AQ saat ini terlalu ketat,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (12/12).

Dia mengatakan UE mengundang pemerintah untuk mengirimkan hasil kajian terkait karakteristik antrakuinon dari sisi analisis risiko. Nantinya, temuan yang baru bakal dikolaborasikan dengan peneliti dan laboratorium milik otoritas Benua Biru.

Dari hasil misi advokasi yang dilakukan ke Eropa, sambungnya, disimpulkan bahwa produsen teh asal Indonesia juga harus melakukan langkah perbaikan produksi. Tujuannya, agar komoditas tersebut dapat memenuhi persyaratan ambang batas residu antrakuinon yang ditetapkan oleh UE sebesar 0,02 part per milion (ppm).

Dengan demikian, dia menyebut produsen teh RI perlu melakukan modernisasi dalam hal pemenuhan standar keamanan pangan, konsistensi kualitas, logistik, serta penentuan harga pembelian. Selain itu, perlu adanya sosialisasi kepada para pembeli teh di Benua Biru terkait kemampuan Indonesia dalam melakukan pengujian ambang batas residu AQ sehingga pengujian dapat dilakukan di dalam negeri untuk menekan biaya produsen.

“Laboratorium Ditjen Perlindingan Konsumen dan Tertib Niaga Kemendag mempunyai kapabilitas menguji AQ yang sudah terakreditasi dan sesuai dengan standar laboratorium di Jerman,” paparnya.

TUNTUTAN PRODUSEN

Sekretaris Umum Dewan Teh Indonesia (DTI) Agus Supriyadi menyatakan tuntutan utama para produsen asal Indonesia yakni tidak menjadikan ambang batas residu AQ sebagai persyaratan impor teh oleh negara-negara UE. Pasalnya, alasan pemberlakukan regulasi tersebut bukan berdasarkan uji klinis.

Agus mengungkapkan saat ini hanya sebagian produsen teh domestik yang dapat memenuhi persyaratan tersebut. Beberapa di antaranya telah berhasil memenuhi standar yang dipersyaratkan dan dapat mengekspor komoditas tersebut ke Benua Biru.

“Sebagian besar hasil produksi teh Indonesia, khususnya yang perkebunan rakyat, besaran AQ-nya bisa mencapai 0,1. Namun, beberapa perkebunan telah berhasil memperbaiki dengan mengikuti prosedur dan menerapkan good manufacturing process,” jelasnya.

DTI mencatat produksi teh Indonesia per tahun mencapai 140.000 ton. Dari jumlah tersebut, setengahnya diperdagangkan di pasar internasional.

Aturan ambang batas residu antrakuinon diatur Peraturan Komisi Eropa Nomor 1146/2014 yang diterbitkan oleh UE pada 23 Oktober 2014, dan mulai berlaku pada 18 Mei 2015. Regulasi tersebut mempersyaratkan ambang batas residu AQ dalam daun teh kering sebesar 0,02 mg/kg.

Menurut catatan Kemendag, ekspor teh RI ke UE eropa mengalami penurunan sebesar 20% pada rentang 2012-2016. Nilai ekspor tergerus dari US$38,6 juta pada 2012 menjadi US$15,9 juta tahun lalu.

Kendati demikian, pemerintah Indonesia menilai penentuan ambang batas antrakuinon tersebut hanya ditentukan dengan menggunakan batas terendah dari suatu metode analisis untuk penetapan kadar. Penentuan ambang batas tersebut juga tidak berdasarkan analisis risiko karena tidak ditemukannya dokumen analisis risiko untuk antrakuinon yang dilakukan European Food Safety Authority.

Sumber : Bisnis Indonesia (13/12/2017)

http://kalimantan.bisnis.com/read/20171213/448/717686/residu-antrakuinon-uni-eropa-tolak-ubah-ambang-batas
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

 

Beranda arrow Berita arrow Berita Terkini arrow RESIDU ANTRAKUINON: Uni Eropa Tolak Ubah Ambang Batas
  
 Copyright © 2009 PT. Perkebunan Nusantara VIII (Persero)
viagra sales online
viagra discount prices
viagra 100mg pills
viagra 100mg cheap
viagra 100mg canada
generic cialis cheap canada
female viagra in australia
viagra cheap buy online
viagra best price
cheap viagra online
pharmacy cheap prescriptions non generic cialis online canadian pharmacy antibiotics order discount cialis online cialis daily or once
cialis no prescription uk buy cialis in uk buy cialis in canada cheap generic drugs uk canadian pharmacy mail order
purchasing viagra in canada buy viagra online paypal pharmacy rx one tablets world no prescription drugs online canada cialis online no prescription
viagra cheap no prescription purchase generic viagra online purchase generic viagra online is something similar to cialis for women no prescription required drugs buy
buy viagra online canada no prescription viagra generic in australia cialis drugstore number one shop
viagra med from canada