Menu Utama
Beranda
Tentang Kami
Produk
Kontak
Berita
Tautan
GCG & CSR
Sistem Informasi
UU No. 14 Th. 2008 (UUKIP)
Sistem Remunerasi
Mekanisme Penetapan Direksi & Komisaris
Pengadaan


 

 

Login





Lupa Kata Sandi?
Belum memiliki akun? Daftar
Berita Terkini
Populer

 

Tantangan Public Relation Perkebunan

Penulis: Adig Suwandi PTPN XI

21 Mei 2018 07:00:07

EKSISTENSI perusahaan agribisnis perkebunan dalam kawasan tersendiri sering dipersepsikan secara salah sebagai komunitas enclave dengan kultur feodal yang tetap dipertahankan. Kesan tertutup tadi antara lain ditunjukkan sulitnya dihubungi media massa yang bermaksud meminta klarifikasi tentang persoalan tertentu dan berlanjutnya pergolakan yang tidak kunjung terselesaikan dengan masyarakat sekitar. Meskipun berbagai upaya telah dilaksanakan, persepsi demikian hingga kini belum dapat hilang dari benak publik, sehingga dipandang perlu masih relevan untuk memperbincangkan strategi atau jurus apa yang mampu menangkal berbagai persoalan yang sebenarnya bisa saja tidak sesuai kenyataan faktual di lapangan.

Public Relations (PR) merupakan salah satu upaya yang barangkali dapat dipertimbangkan untuk meluruskan kembali persepsi salah tadi ke arah terwujudnya citra (image) yang baik bagi perusahan. Hubungan timbal balik antara perusahaan dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) tentu saja perlu didesain ulang sejalan dengan perubahan tantangan pada lingkungan strategik yang semakin kompleks dan dilematis. Stakeholders dimaksud tidak hanya menyangkut stakeholders internal (pekerja), namun juga pihak-pihak eksternal mulai dari petani, para pemasok barang/jasa, pembeli produk, lembaga swadaya masyarakat, pemerintah, parlemen, media massa, universitas, pusat-pusat penelitian, dan lain-lain. Upaya meluruskan atau klarifikasi atas sejumlah isu yang mencuat dan sebenarnya bukan merupakan gambaran obyektif tentang apa yang terjadi di lingkungan perusahaan hanya mungkin efektif dan produktif apabila sasaran yang ingin dicapai serba jelas dan terukur. 

Pergeseran Peran

Perusahaan-perusahaan agribisnis perkebunan telah mengalami metamorfosis berulang kali. Orientasi menjadi produsen tanaman perkebunan berorientasi ekspor yang berjalan sendiri tumbang setelah diintroduksikan pola PIR-Bun pada tahun 1980-an. Perusahaan tidak hanya diwajibkan membina petani sekitar terkait usaha peningkatan produktivitas dan pemasaran hasil perkebunan, namun juga keterlibatannya secara aktif dalam pembangunan kebun, baik bagi para petani lokal maupun transmigran, selaku plasma. Hubungan kemitraan antara inti dan plasma secara sinergis terbukti banyaknya kebun potensial yang bukan saja berkemampuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, namun juga kepeloporan perusahaan perkebunan dalam percepatan pertumbuhan ekonomi regional sebagaimana tercermin dari keterbukaan daerah terpencil dari isolasi dan multiplier effects yang ditumbulkan berupa perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha.

Pergeseran peran paling menyolok terjadi pada perusahaan pengelola pabrik gula (PG). Kalau sebelum tahun 1998, petani di kawasan historis PG terkena kewajiban menanam tebu untuk keperluan pemenuhan bahan baku yang semua desain dan kebijakannya datang dari atas, kini cara-cara itu tidak lagi melekat. Para petani bebas mengusahakan kooditas usahatani apa saja yang dinilai paling profitable. Hubungan antara antara PG dan petani merupakan kemitraan (partnership) berlandaskan kerja-sama dalam kesetaraan peran yang saling menguntungkan, saling menguatkan, dan saling mempercayai. Di samping sebagai pengolah tebu petani dan membantu pemasaran hasil, tugas PG antara lain mencakup penyediaan bibit unggul, penjamin (avalist) kredit petani, dan pembimbing teknis. PG pun sadar bahwa daya saing kebun petani menjadi kata kunci untuk mempertahankan dan melestarikan perusahaan. Bukankah pendapatan yang diperoleh sebagian besar berasal dari jasa penggilingan tebu petani?

Walaupun pergeseran peran tersebut telah terjadi, namun tantangan baru selalu muncul, apalagi Indonesia pasca-reformasi 1998 membuat apa yang di masa lalu disakralkan dan dianggap tabu mengalami penjungkirbalikan nilai. Dari serba diatur dan dilindungi, kini semuanya harus dihadapi sendiri. Solusi dengan mengajak semua pihak untuk memahami kondisi faktual, kesediaan memberikan atensi, dan membantu menciptakan citra baik telah menjadi tuntutan baru yang mau tidak mau harus diciptakan perusahaan. Atas nama liberalisasi perdagangan dan konsekuensi integrasi ekonomi ke dalam kapitalisme global, perusahaan perkebunan tidak mungkin mempertahkan cara-cara lama yang dianggap baik dan mapan di masa lalu untuk kondisi dunia yang sudah berubah. Di sinilah PR berperan untuk membangun komunikasi timbal balik bersifat dialogis dengan stakeholders.

PR berkepentingan dengan urusan menjelaskan visi, misi, dan tujuan perusahaan yang sangat mulia dengan mengatakan bahwa perusahaan tidak semata-mata mengejar profit melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya dikuasai, melainkan juga adanya komitmen melekat untuk maju bersama masyarakat sekitar. Hubungan harmonis antara perusahaan dengan masyarakat tidak mungkin terjadi dalam suasana kebekuan komunikasi. Munculnya kecurigaan dan kekhawatiran secara berlebihan bahwa perusahaan perkebunan mengeksploitasi dan membohongi masyarakat sekitar tidak akan terjadi kalau mereka paham tentang apa yang harus dijalankan perusahaan dalam mengemban misi terwujudnya kesejahteraan bersama melalui si besar menguatkan si kecil dan dukungan si kecil untuk tidak mengganggu si besar. Tidak perlu heran mengapa masih banyak complain meski perusahaan telah melaksanakan corporate social responsibility (CSR) secara konsisten dan bahkan kegiatan tersebut sudah diiklankan secara besar-besaran di sejumlah media massa.

Membangun reputasi, citra, integritas, dan kredibilitas tidak mungkin sekali jadi. Rangkaian proses panjang harus dilewati hingga stakeholders memahami peran dan komitmen perusahaan secara utuh. Informasi harus dibangun secara terus-menerus untuk mendapatkan pemahaman holistik tentang perusahaan. Anehnya, banyak orang PR sendiri beranggapan bahwa kalau sebuah kegiatan sudah diliput atau diiklankan media massa, reputasi akan terbangun dengan sendirinya. Iklan hanyalah salah satu di antara jurus PR yang cukup populer, namun sebenarnya masih banyak kegiatan yang mesti mendapat perhatian.

Ruang pemahaman lain seperti press release, press gathering, sponsorship, forum seminar, lokakarya, dan bahkan pertemuan-pertemuan tidak resmi dengan stakeholdersseringkali jauh lebih efektif untuk memberikan pemahaman dimaksud. PR berkepentingan dengan pengelolaan orang-orang yang selama ini tidak terpuaskan dengan keberadaan perusahaan. Dalam dunia nyata, pressure groups seperti selalu ada. Sangat tidak realistis kalau PR beranggapan bahwa semuanya harus paham dan hormat kepadanya. Tugas PR adalah membuat mereka paham dan memberikan kontribusi positip bagi perusahaan untuk bersama-sama membangun komunitas baru yang lebih demokratis, adil, dan beradab. Kesamaan tugas inilah yang harus disenergikan dalam mengelola lingkungan. PR dituntut lebih ramah dan santun terhadap siapa pun, tidak terkecuali terhadap para oposan perusahaan.

Kejanggalan lain yang sering terjadi, orang PR sering terjebak protokoler secara berlebihan atau terpaku aturan-aturan kaku dan menjadikan CEO bak selebritis.. Sangat penting para CEO tampil di media massa untuk menjelaskan berbagai tindakan yang dilakukan untuk membawa perusahaan perkebunan ke arah kemajuan berarti. Pandangan CEO tentang dunia yang sudah berubah barangkali juga penting untuk turut merubah opini dan persepsi publik tentang perusahaan perkebunan yang di sana sini masih dianggap bermental feodal. Sepanjang tidak terkait strategi bisnis yang bersifat rahasia untuk memenangkan kompetisi, sangat penting pandangan CEO yang bersifat umum dan generik diketahui publik. Kesan terhadap CEO pada akhirnya juga urut membantu terbangunnya citra baik perusahaan. Inilah transformasi penting dari CEO selebritis ke arah CEO credibility.

Jembatan Penghubung

Tak perlu diragukan lagi bahwa departemen atau urusan PR berperan penting sebagai jembatan penghubung antara perusahaan dengan stakeholders. Karena itu kompetensi dan kapabilitas petugas PR Perkebunan perlu mendapat perhatian khusus agar pemahaman tentang PR, corporate communications, atau apalah namanya tidak terjebak kultur lama yang sudah tidak relevan dengan dunia komunikasi yang mengalami pergeseran mendesar. Kompetensi PR tidak hanya menyangkut kualifikasi akademik dan kemampuan berkomunikasi scara efektif, melainkan juga pengetahuan mendalam tentang perusahaan tempat ia bekerja (termasuk bagaimana sejarah pembentukan, porsi kepemilikan saham, kinerja, rencana ke depan, CSR, dan lain-lain), lingkungan industri, dan pengetahuan umum yang berhubungan dengan regulasi.

Tuntutan yang tidak kalah pentingnya, petugas PR harus memiliki kemampuan berkoordinasi dengan departemen/urusan lain dalam perusahaannya lantaran informasi yang diperlukan publik seringkali tersebar dan selalu mengikuti perkembangan. Bayangkan kalau tiba-tiba seorang PR ditelepon wartawan yang bertanya tentang kinerja perusahaan, tetapi ia tidak tahu. Idealnya PR tahu banyak tentang kondisi perusahaan, tetapi tidak pelu menjadi sok tahu. PR juga harus mempunyai keberanian menyampaikan informasi kepada publik. Dengan otoritas dimiliki untuk mengkomunikasikan setiap informasi yang bersifat terbuka, dalam memberikan keterangan atau klarifikasi dimaksud tidak perlu harus menunggu komando manajemen. Selama yang disampaikan tadi benar, tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip kerahasiaan perusahaan (yang umumnya berhubungan dengan strategi), dan berkemampuan mengangkat citra perusahaan, mengapa harus takut.

Berangkat dari kerangka pemahaman di atas, idealnya manajemen memberikan keleluasaan kepada petugas PR berkomunikasi secara intensif dengan banyak pihak, termasuk koordinasi para pemegang informasi perusahaan dan komunitas eksternal dalam arti luas. Selain itu, barangkali perlu dipikirkan pula peran dan fungsi PR sejalan dengan perubahan lingkungan yang semakin menuntut transparansi dan akuntabilitas publik dengan memotivasi mereka melalui cara-cara elegan dalam bentuk kejelasan carrier planning. Masalahnya, di banyak tempat sering ditemui bahwa PR tak lebih dari pelengkap penderita dan hanya berfungsi ketika kebakaran sudah terjadi. Jangan ada lagi kesan dan anggapan PR merupakan tempat orang-orang buangan. Sebaliknya PR harus ditempatkan sebagai ujung tombak dan penjaga gawang citra baik perusahaan, apalagi kalau perusahaan akan atau sudah go public sehingga juga berperan sebagai investor relations

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

 

e-mail@pn8.co.id
GCG & Whistle Blowing System
Polling
Pendapat anda tentang website Perkebunan Nusantara VIII
 
Online
Saat ini adai 5 tamu-tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
free counters
Komunitas PTPN VIII

Beranda
  
 Copyright © 2009 PT. Perkebunan Nusantara VIII (Persero)
viagra sales online
viagra discount prices
viagra 100mg pills
viagra 100mg cheap
viagra 100mg canada
generic cialis cheap canada
female viagra in australia
viagra cheap buy online
viagra best price
cheap viagra online
pharmacy cheap prescriptions non generic cialis online canadian pharmacy antibiotics order discount cialis online cialis daily or once
cialis no prescription uk buy cialis in uk buy cialis in canada cheap generic drugs uk canadian pharmacy mail order
purchasing viagra in canada buy viagra online paypal pharmacy rx one tablets world no prescription drugs online canada cialis online no prescription
viagra cheap no prescription purchase generic viagra online purchase generic viagra online is something similar to cialis for women no prescription required drugs buy
buy viagra online canada no prescription viagra generic in australia cialis drugstore number one shop
viagra med from canada