Menu Utama
Beranda
Tentang Kami
Produk
Kontak
Berita
Tautan
GCG & CSR
Sistem Informasi
UU No. 14 Th. 2008 (UUKIP)
Sistem Remunerasi
Mekanisme Penetapan Direksi & Komisaris
Pengadaan


 

 

Login





Lupa Kata Sandi?
Belum memiliki akun? Daftar
Berita Terkini
Populer

 

Agrowisata Perkebunan - Alternatif Income bagi Unit Usaha Perkebunan

Penulis: Terra Triwahyuni, LPP Kampus Yogyakarta

30 Mei 2018 07:00:37

Salah satu kekhasan dunia perkebunan adalah kebutuhan lahan yang notabene memiliki keluasan signifikan. Guna memudahkan dalam pengelolaan, luasan lahan tadi dibagi-bagi menjadi unit-unit usaha yang kemudian dibagi lagi menjadi kebun/afdeling sebagai satuan terkecil. Areal tersebut ada yang ditanami komoditas tunggal ataupun tumpangsari, yang secara garis besar dapat dibagi menjadi komoditas tanaman tahunan dan tanaman semusim.

Tidak semua komoditas bisa mendatangkan keuntungan, atau jika memberikan keuntungan, nilainya dapat bevariasi tergantung kepada jenis tanaman dan harga pasar, karena sebagian besar dijual dalam bentuk bahan mentah. Permasalahannya, pemilihan jenis komoditas juga terkendala oleh iklim dan kemampuan tumbuh kembang optimal dari masing-masing tanaman yang memiliki keterbatasan.

Manajemen Perusahaan perkebunan telah mengusahakan berbagai kiat untuk mendapatkan keuntungan lebih besar atau mempertipis kerugian dengan menanam hortikultura, menumpang sarikan tanaman yang memerlukan naungan dengan sengon, jabon, dlsb. Sebagai salah satu alternatif yang kini sudah mulai dikembangkan adalah agrowisata. Mengapa Agrowisata? Karena bidang ini semakin menarik serta memungkinkan perkembangan yang bisa tak terbatas. Lebih untungnya lagi, Agrowisata dapat dimulai dari skala sederhana, yang jika dipersiapkan dengan baik, sangat berprospek bisa mendatangkan untung.

Sebenarnya mengembangkan agrowisata sebagai salah satu sumber income unit usaha sudah bukan merupakan hal baru di tingkat dunia. Dimulai dengan perkebunan-perkebunan anggur, yang memberikan tawaran nuansa hamparan kebun anggur, pemetikan langsung, melihat cara pembuatan minuman anggur, hingga penjualan produk konsumsinya. Kini bahkan perkebunan jagung sekalipun ada yang memiliki agrowisata untuk meningkatkan penghasilan, bahkan bagi para petani-petani di Australia, Kanada, Amerika dan Filipina.

Keuntungan Pengembangan Agrowisata

Mengapa agrowisata merupakan hal yang perlu kita lirik dalam mengelola Perkebunan di Indonesia? Sebenarnya ada beberapa aspek yang dapat kita pertimbangkan, antara lain :

·  Dapat meningkatkan pendapatan kebun/unit usaha.

Jika unit usaha berada di dataran tinggi semacam perkebunan teh, di satu sisi telah merupakan suatu anugerah tersendiri. Udara yang sejuk, hanya memerlukan sedikit tambahan daya tarik, maka sudah menjadi tempat yang potensial untuk membuat orang ingin mengunjungi. Berbagai bunga juga tumbuh dengan sangat baik di dataran tinggi, sebagai salah satu pendukung untuk penghiasan eksterior lokasi kunjungan. Udara yang sejuk juga memberi kesempatan luas untuk membuka lokasi penginapan dengan biaya operasional relatif rendah.

Lokasi perkebunan di dataran rendah sebenarnya juga bukan merupakan masalah yang besar. Sebagai contoh, Singapura negara kecil tanpa sumber daya alami yang sekaya Indonesia, kondisi geografis hampir tak memiliki dataran tinggi, ternyata mampu menyedot wisatawan mancanegara dengan taman-taman Garden By the Bay, National Park, yang terawat dengan sangat profesional.

Masalah tanaman, memang tak banyak bunga-bunga yang bersedia mekar di dataran rendah, misalnya sekitar euphorbia, adenium, dan tanaman air. Namun berbagai tanaman hias daun, seperti bermacam-macam kaktus, heliconia, tilandsiamaupun keluarga bromelia, dan lain sebagainya, masih menawarkan pilihan yang tak kalah menarik. Keunggulan tanaman hias daun, ia sudah tampak menarik sepanjang tahun. Tidak seperti tanaman bunga yang hanya menarik saat bunganya bermekaran, sehingga taman-taman di Singapura harus mengganti tanaman anggrek mereka secara pereodik, sehingga pengunjung selalu dapat melihat anggrek yang bermekaran mengagumkan. Tanaman hias daun juga memiliki keaneka ragaman warna, serta bentuk yang sangat kaya. Mulai dari putih, biru, merah, hingga ungu, atau justru bercorak, yang memungkinkan kombinasi landscape yang sangat leluasa.

Bagi unit usaha yang tak memungkinkan permainan landscape pun, masih terdapat kemungkinan pengembangan agrowisata dengan penciptaan event, seperti outbound, permainan mencari jejak, serta game-game lain yang sangat luas variasinya.

·  Sebagai salah satu langkah pengalihan untuk penempatan tenaga kerja, jika unit akan mulai melaksanakan mekanisasi.

Peluang mekanisasi dapat segera diraih tanpa harus mengorbankan kondisi kerja kurang optimal, karena banyaknya pekerjaan yang harus dirangkap oleh karyawan lain seperti saat perusahaan menerapkan kebijakan pertumbuhan karyawan secara negatif (negative growth employee rate).

Agar penanganan agrowisata dapat optimal, maka karyawan yang akan menangani bisnis ini, perlu dicari karyawan yang memiliki minat serta memiliki kemampuan minimal standar dalam menangani bisnis semacam ini. Selain itu karyawan juga memerlukan pelatihan-pelatihan yang dapat mendukung tugas barunya, jika mungkin dapat melakukan magang atau benchmark di lokasi agrowisata lain. Hal ini diperlukan selain untuk meningkatkan kualitas karyawan, juga agar perpindahan kerja memberikan motivasi lebih positif bagi karyawan yang bersangkutan. Karyawan akan merasakan pemindahan sebagai “promosi”, sekalipun level jabatan masih tetap sama.

·  Kesempatan untuk membangun masyarakat di sekitar perkebunan sehingga menjadi mitra yang semakin erat dan sukarela mendukung kerja sama dengan perkebunan.

Semakin lama, jumlah lahan yang semakin sedikit, di masa yang akan datang, sangat berpotensial dalam menimbulkan konflik dengan masyarakat di lingkungan sekitar perkebunan itu sendiri.

Untuk itu, unit usaha yang selama ini masih “aman aman saja” sangat memiliki peluang untuk mulai menjalin kerjasama simbiose mutualisma yang saling menguntungkan dengan masyarakat sekitar. Bagi unit usaha yang bermasalah, memang masih perlu melakukan preconditioning agar suasana lebih kondusif dulu.

Agrowisata memberikan peluang yang cukup besar untuk dapat bekerja sama dengan masyarakat di lingkungan perkebunan. Ada kata bijak dari leluhur kita yang mengatakan “Jangan pagari rumah kamu dengan pagar berduri yang tinggi, tapi pagarilah dengan pagar mangkok”. Pagar mangkok adalah kiasan bagi memberi penghasilan kepada masyarakat sekeliling. Itu jauh lebih aman. Lagipula salah satu misi Perkebunan Negara memang untuk mengajak masyarakat lebih maju.

Saat ini tuntutan masyarakat dunia sudah mengarah kepada triple bottom line, yang pada intinya perusahaan harus mempertimbangkan people – profit – planet, demi keberlangsungan dunia usaha itu sendiri. Maka agrowisata merangkum ketiganya dalam satu kegiatan.

·  Membangun rasa cinta perkebunan sejak dini kepada anak-anak maupun masyarakat umum

Bahkan di tingkat dunia sekalipun, pekerjaan pengelolaan perkebunan sudah mulai tidak mendapatkan minat yang cukup dari generasi penerus. Dampak dari hal ini adalah akan semakin sulitnya mencari tenaga yang berbakat dan berkualitas sebagai calon pemimpin di perkebunan. Sesuatu yang tak dapat digantikan dengan prinsip mekanisasi.

Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar nomer empat sedunia, dengan lahan yang semakin menyempit, jelas memerlukan dukungan dari petani/pekebun intelek yang handal.

Jika gambaran petani atau pekebun di negara kita adalah sosok warga negara yang terpinggirkan seperti saat ini, pekerjaan pertanian/perkebunan yang berkesan pekerjaan kotor serta kurang bergengsi, sulit sekali kita membayangkan negara kita akan dapat meraih kemandirian pangan. Padahal akibatnya dapat berimbas pada hilangnya kemandirian-kemandirian lainnya juga. Oleh karena itu, minat maupun rasa cinta pada dunia perkebunan perlu mulai kita tanamkan sejak dini kepada anak-anak.

Saat ini, dikehendaki atau tidak, citra PT Perkebunan Negara di mata masyarakat Indonesia, kurang begitu positif. Agrowisata adalah salah satu cara memperkenalkan dunia pengelolaan perkebunan negara di Indonesia dengan cara yang lebih halus dan diharapkan lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Tumpangsari Agrowisata

Salah satu hambatan yang biasa dialami unit usaha dalam mulai mengembangkan agrowisata adalah besarnya biaya awal maupun biaya operasional yang harus dikeluarkan pada saat memulai, padahal kemungkinan untung masih dalam bayangan saja.

Guna mengatasi hal ini, memang perlu kajian awal dan persiapan yang sungguh-sungguh dalam memulai usaha agrobisnis. Selain itu, guna menekan biaya operasional, sama dengan lahan teh yang ditumpangsari dengan pohon sengon, maka agrowisata juga harus dapat ditumpangsari dengan hal lain. Sebagai contoh, landscape agrowisata yang memerlukan perawatan, penyiraman, pemupukan, dan juga pemberantasan hama. Bagaimana bila diisi oleh tanaman-tanaman pangan yang juga atraktif.

Sebagai contoh, nanas (Ananas bracteatus ‘Tricolor’) yang daunnya berwarna hijau dengan tepi putih dan merah, namun buahnya yang berwarna merah juga dapat dikonsumsi, akan bagus sebagai tanaman taman. Belum lagi kobis merah (Brassica oleracea ‘Red Jewel’), Kobis lokal yang daunnya kompak dan berwarna agak kebiruan. Pak Choi ‘Purple’ yang berdaun keunguan, Bunga Matahari yang bijinya dapat dikonsumsi, Bayam merah. Tanaman-tanaman yang telah memiliki keindahan sejak masih kecil, dan dapat dijual untuk konsumsi setelah cukup usia, sangat ideal untuk budidaya tumpangsari agro ini.

Langkah-langkah Persiapan

Mengingat selain ditujukan untuk menambah pemasukan unit usaha, diharapkan juga membawa citra positif bagi perusahaan, maka perlu persiapan matang dalam memulai agrowisata. Secara garis besar, langkah-langkah tersebut adalah :

·  Survei potensi. Survei perlu dilakukan terhadap potensi internal, seperti Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di kebun, Sumber Daya Kebun yang mungkin menarik sebagai obyek, serta potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada pada unit usaha tersebut. Survei juga dilakukan terhadap potensi eksternal, seperti pemetaan masyarakat lingkungan, konsumen potensial, lokasi wisata di sekeliling, juga pemasaran wisata di kota sekitar.

·  Pembuatan Road Map dan Business Plan dari Agrowisata. Sekalipun agrowisata dapat dimulai dari hal sederhana tak berbiaya tinggi dengan memanfaatkan sumber daya internal seoptimal mungkin, tetap memerlukan Road Map dan Business Plan yang jelas. Hal ini perlu bagi keperluan evaluasi dan perbaikan lebih lanjut dari bisnis agrowisata itu sendiri.

·  Persiapan Obyek Wisata, SDM, SDA, Masyarakat Lingkungan, Perijinan serta Pemasaran Obyek wisata bisa berupa tempat indah, bersejarah yang sudah ada, namun bisa juga berupa obyek seperti wisata tradisi perkebunan, wisata sejarah, wisata seni dari masyarakat lingkungan, wisata petik sendiri, wisata pendidikan, wisata kuliner, wisata outbond, wisata kesehatan, dan lain sebagainya tergantung dari kesiapan sumber daya yang ada.

·  Pelaksanaan, Perawatan dan Gradual Improvement. Awal pelaksanaan biasanya dimulai dengan pemberian berbagai discount, atau pembuatan event untuk “memperkenalkan” atau menarik perhatian konsumen terhadap obyek agrowisata. Selanjutnya diperlukan perawatan dan penambahan obyek atau event sehingga terjadi keinginan wisatawan untuk berkunjung ulang.

Risk Management

Sebagai pisau bermata dua, agrowisata juga dapat menimbulkan kerugian materiil maupun immateriil bagi unit usaha yang membukanya. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, misalnya adalah :

·       Agrowisata berpotensi mengganggu jalannya operasional perusahaan. Untuk mencegahnya, perlu ada pembatasan area-area yang dapat dikunjungi. Jadwal kerja yang memerlukan mobilitas karyawan yang tinggi, juga perlu mendapat perhatian.

·       Lokasi agrowisata juga rawan tindak kejahatan atau asusila mengingat perkebunan memiliki lahan luas dengan berbagai komoditas di atasnya.

·       Tujuan agrowisata untuk mendekatkan masyarakat perkebunan dengan unit usaha, perlu senantiasa dijaga dengan pembangunan karakter masyarakat secara rutin, melibatkan masyarakat dalam evaluasi, pemberian pelatihan teknis maupun manajerial yang diperlukan, serta terus membina masyarakat dalam kelompok, sehingga dapat mengantisipasi hal tak kondusif yang dilakukan per individu.

·       Agrowisata jenis permainan, juga perlu pengkajian dari sisi pengamanan terhadap kecelakaan.

Meski tak semua resiko tersebut memiliki potensi timbul yang sama besarnya. Perlu pemetaan lebih rinci untuk memilah resiko berdampak besar dan berpotensi besar muncul untuk memperioritaskan cara penanganan yang perlu dipilih.
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

 

e-mail@pn8.co.id
GCG & Whistle Blowing System
Polling
Pendapat anda tentang website Perkebunan Nusantara VIII
 
Online
Saat ini adai 24 tamu-tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
free counters
Komunitas PTPN VIII

Beranda
  
 Copyright © 2009 PT. Perkebunan Nusantara VIII (Persero)
viagra sales online
viagra discount prices
viagra 100mg pills
viagra 100mg cheap
viagra 100mg canada
generic cialis cheap canada
female viagra in australia
viagra cheap buy online
viagra best price
cheap viagra online
pharmacy cheap prescriptions non generic cialis online canadian pharmacy antibiotics order discount cialis online cialis daily or once
cialis no prescription uk buy cialis in uk buy cialis in canada cheap generic drugs uk canadian pharmacy mail order
purchasing viagra in canada buy viagra online paypal pharmacy rx one tablets world no prescription drugs online canada cialis online no prescription
viagra cheap no prescription purchase generic viagra online purchase generic viagra online is something similar to cialis for women no prescription required drugs buy
buy viagra online canada no prescription viagra generic in australia cialis drugstore number one shop
viagra med from canada