|
Senin, 07 Mei 2012
Asal-usul Teh
Bangsa Cina telah minum teh selama 5.000 tahun. Asal
mula teh pada awalnya masih merupakan legenda . Legenda yang paling
terkenal adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung (diucapkan ‘Shay-Nung').
Penemuan teh olehnya belum ditempatkan secara tepat dalam sejarah,
yaitu pada tahun 2737 sebelum masehi.
Selama ribuan tahun, bangsa Cina meminum teh untuk
kesehatan dan kenikmatan. Tidak seorangpun tahu apa yang menyebabkan
mereka tertarik dengan daun hijau serta mengkilap dari Camellia sinensis , tetapi legenda popular dapat memberi pengetahuan kepada kita.
Pada suatu hari, ketika Kaisar Shen Nung akan minum
air mendidih, beberapa daun dari pohon yang menjuntai tertiup angin dan
jatuh di panci berisi air mendidih tersebut. Sang Kaisar ingin tahu dan
memutuskan untuk mencicipi air rebusan yang tidak menyerupai minuman
tersebut. Kaisar menemukan air rebusan itu sedap dan menyegarkan tubuh.
Legenda dari India menghubungkan penemuan teh dengan
biarawan Bodhidharma. Sang biarawan sangat kecapekan setelah mengakhiri
pertapaannya selama 7 tahun. Dalam keputus-asaan dia mengunyah beberapa
daun yang tumbuh didekatnya, yang dengan serta-merta menyegarkannya
kembali.
India saat ini merupakan penghasil teh terbesar di dunia, tetapi tidak
ada catatan sejarah mengenai minum teh di India sebelum abad kesembilan
belas. Eksperimen dari Bodhidharma mengunyah teh tidak pernah
disebarkan kepada masyarakat umum pada saat itu.
Mitologi lain dari Jepang mengenai biarawan yang
bertapa, Bodhidharma, menjelaskan bagaimana ia membuang kelopak matanya
yang berat ke tanah karena merasa frustasi tidak mampu untuk tetap
terjaga. Pohon teh tumbuh dimana ia membuang kelopak matanya. Dedaunan
dari pohon yang baru tumbuh ini secara ajaib menyembuhkan kepenatannya.
Teh bukan asli dari Jepang, maka mitologi ini tidak
memberikan penjelasan untuk keberadaanya secara mendadak di Jepang.
Realitanya kurang beragam: di awal abad kesembilan, seorang biarawan
dari Jepang yang pulang dari pengembaraan, bernama Dengyo Daishi membawa
biji tanaman teh dari Cina.
Metode pembuatan teh dengan panci terbuka yang
diperkenalkan oleh Kaisar Shen Nung terbukti setelah sekian lama waktu
berjalan. Hal tersebut membutuhkan waktu 4.000 tahun sebelum metode
pembuatan teh yang kita kenal sekarang dikembangkan.
Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), bangsa Cina mulai
membuat teh dengan air mendidih. Dengan sedikit adaptasi, tempat
penuang anggur tradisional dari China yang menggunakan penutup menjadi
teko teh yang sempurna.
Teh
‘Teh' dengan segala variasinya di dunia dalam pengejaan dan pengucapan berasal dari sumber tunggal. ‘ Te ', berarti ‘teh' dalam dialek Cina Amoy. Bahasa Cina nasional dari kata teh, ‘ cha ', juga menghasilkan beberapa turunan kata lain di dunia.
Teh masuk ke Eropa pada awal abad ketujuhbelas.
Dibandingkan kelebihan teh dalam hal pengobatan, bangsa Eropa lebih
memilih aroma kopi. Hanya diantara beberapa golongan kecil dari kaum
bangsawan, yang mempopulerkan teh.
Masuknya Teh ke Eropa
Pada awal abad ketujuh belas pedagang dari bangsa
Belanda dan Portugis pertama kali memperkenalkan teh ke Eropa. Pedagang
Portugis mengirimkan dengan kapal dari pelabuhan Cina, Macau, sedangkan
pedagang Belanda membawanya dari Indonesia ke Eropa.
Minuman baru yang datang bersamaan dengan muatan sutera dan rempah-rempah ini tidak mengalami sukses dalam sekejap.
Bangsa Eropa mencicipi teh, tetapi
mereka lebih memilih aroma kopi. Sedangkan pedagang Inggris menunggu
hingga tahun 1652 sebelum akhirnya mulai memperdagangkan teh.
Bangsa Rusia merupakan penggemar awal teh. Teh yang
mereka konsumsi datang melalui jalur darat dari Cina menggunakan kereta
yang ditarik oleh unta.
Ketika penggemar teh di Rusia meningkat, barisan unta yang membawa teh semakin memanjang.
Pada akhir abad kedelapan belas, beberapa ribu kereta
yang ditarik unta, kira-kira 200-300 kereta pada satu saat menyeberangi
perbatasan Cina.
Jalur kereta api lintas Siberia menggantikan kereta
yang ditarik unta, tetapi perjalanan romantik tersebut menyisakan
ingatan yang popular atas campuran lembut teh hitam Cina yang terkenal
sebagai Karavan Rusia.
Kemajuan Melalui Kerajaan
Pada abad ketujuhbelas di Eropa, tak satupun yang menolong penjualan teh selain pelanggan dari keluarga kerajaan.
Acara minum teh menjadi istimewa pada tahun 1662,
ketika Raja Charles II dari Inggris menikah dengan Catherine dari
Braganza, seorang putri berkebangsaan Portugis dan seorang penggemar
teh. Catherine mengawali tradisi minum teh dalam istana, dengan
menggunakan mangkuk dan teko teh transparan buatan Cina – dan segera
para anggota istana lain mengikuti caranya.
Pada saat itu harga teh dinilai mahal, namun sekarang sudah menjadi
umum. Seketika teh menjadi mode dan eksklusif. Menurut sudut pandang
kaum bangsawan, hal tersebut merupakan sesuatu yang menarik.
Pada abad ketujuh belas di Eropa, teh merupakan produk praktis
yang memiliki kegunaan besar. Kebanyakan air tidak layak diminum. Bagi
yang ingin menghindari penyakit, pilihan yang ada tidak membangkitkan
semangat: secangkir air mendidih, atau bir yang cukup kuat untuk
membunuh bakteri.
Di Inggris dan beberapa negara, dimana bir adalah
minuman yang umum untuk sarapan, teh menjadi altenatif lain yang
disambut baik. Pada akhirnya teh menjadi pemuas dahaga yang hangat dan
menyegarkan, penuh rasa, dan aman untuk diminum.
Pada abad kedelapan belas di keluarga kaya, minum teh merupakan acara dalam perayaan besar.
Daun teh yang bernilai tinggi seringkali disimpan dalam kotak penyimpanan yang berkunci, dimana hanya ada satu kunci.
Sekali atau dua kali dalam seminggu, nyonya rumah
akan membuka kuncinya dan menghidangkan teh untuk suguhan dalam
keluarga, atau untuk memberi kesan pada tamu istimewa.
Teh disajikan dengan porselin yang memiliki mutu
baik, yang menandakan tingkat kekayaan, selain untuk menambah arti dari
perayaan. Hal ini juga merupakan kesempatan bagi para wanita untuk
memamerkan kulit mereka yang pucat dan struktur tulang yang lembut
dibandingkan porselin Cina. Dua atribut ini merupakan tolok ukur
kemurnian seorang wanita pada saat itu.
Kehidupan sosial pada awal pertengahan abad kedelapan belas beralih
dari kebiasaan seperti kedai kopi digantikan dengan kebun teh. Kebun teh
menjadi seperti surga: pohon-pohon di tepian jalan, lentera yang
menerangi jalan setapak, musik, tarian, kembang api, dan makanan enak
ditemani dengan secangkir teh yang nikmat.
Kebun teh tidak hanya tempat yang menyenangkan,
tetapi juga merupakan tempat untuk pertemuan sosial. Di tempat eksotis
ini, keluarga kerajaan dan rakyat biasa dapat berjalan bersama.
Konsumsi teh meningkat secara dramatis selama awal
abad kesembilan belas. Mode dan penurunan harga membangun pasar yang
sulit dipenuhi oleh para pemasok barang. Untuk menerobos monopoli dari
Cina, perdagangan teh beralih ke India untuk mengisi kesenjangan.
India
Ketika konsumsi teh meningkat pada awal abad
kesembilan belas, Perusahaan India Timur mencari sumber persediaan baru.
Sejak bangsa Cina memonopoli penamanan teh, solusinya adalah dengan
menanam teh dimana-mana.
Percobaan pertama dengan bibit teh dari Cina dikelola
di Assam, timur laut India. Tetapi eksperimen ini tidak berhasil,
meskipun bibit yang sama tumbuh dengan baik di Darjeeling, India bagian
utara.
Kemudian pada tahun 1820, para ahli tumbuh-tumbuhan
menemukan tumbuhan lokal yang belum teridentifikasi. Mereka mengirim
contoh daun ke London untuk dianalisis. Contoh daun tersebut dengan
segera dikenali sebagai teh – tanaman yang pada mulanya tidak dikenal di
India – kemudian lahirlah industri teh India.
Pengemasan
Sampai pada tahun 1826, teh selalu dijual secara
lepas. Hal ini mengundang niat jahat pengusaha toko untuk mengganti
aroma teh dengan bahan tambahan. Pada tahun 1826, John Horniman
mengembangkan (pre-sealed )pra penutup, kemasan teh dengan
penutup dari timah, dimana hal ini tidak segera menyenangkan para
penjual. Mereka lebih memilih untuk meningkatkan keuntungan dengan
kebiasaan yang sudah ada. Horniman kemudian mencoba cara lain untuk
memasarkannya. Dia menambahkan pesan kesehatan pada kemasan teh dan
menjualnya ke apoteker dan ahli obat. Orang-orang ini dan pelanggannya
jauh lebih bisa menerima pendekatan ini.
Keberadaan teh celup berasal dari kejadian yang tidak
disengaja. Seorang pengimpor teh dari New York bernama Thomas Sullivan
mengirimkan contoh teh kepada para pelanggannya dalam kantung sutera
kecil. Para pelanggan ini menyukai cara yang mudah ini, kemudian
selanjutnya menghendaki semua teh untuk mereka dikemas dalam kantung.

Setelah 5.000 tahun, konsumsi dan produksi teh terus
meningkat. Di dunia, secara kasar tiga juta ton teh dipanen setiap
tahunnya.
Ada dua faktor yang saat ini mengendalikan pasar
internasional. Di negara-negara berkembang, minum teh ditiru dari bangsa
Eropa seperti yang mereka lakukan tiga abad yang lalu. Cara yang nikmat
untuk meminum air dengan aman. Di negara-negara berkembang, keinginan
akan variasi dan aroma baru meningatkan konsumsi teh secara khusus.
Food-Info.net is an initiative of Wageningen University, The Netherlands
http://www.food-info.net/id/products/tea/history.htm
|