|
Kamis, 28 Juni 2012
Oleh : Handoyo
JAKARTA. Musim kemarau mulai
mengancam sentra perkebunan, terutama sentra perkebunan teh. Dampak
musim kemarau itu bisa mengganggu produksi teh yang akhirnya berdampak
pada kenaikan harga jual teh kering.
PT Perkebunan Nusantara (PTPN VIII), salah satu perusahaan perkebunan
teh terbesar di Indonesia, saat ini, membanderol harga jual teh kering
pada kisaran US$ 2 per kilogram (kg)-US$ 3,4 per kg, atau naik 11%-41%
dibandingkan awal tahun lalu.
Gunara, Sekretaris Perusahaan
PTPN VIII bilang, salah satu faktor yang mempengaruhi kenaikan harga teh
adalah peningkatan mutu yang semakin baik karena meningkatnya pengawasan. "Bulan
Agustus sampai September mendatang harga teh akan terus naik," jelas
Gunara memprediksi, Rabu (27/6).
Berkurangnya produksi teh
pada musim kemarau ini diakui oleh Endang Sopari, Wakil Ketua Asosiasi
Petani Teh Indonesia (Aptehindo) Jawa Barat. Endang bilang, penyusutan
produksi teh terjadi bertahap sesuai tingkat kekeringan lahan. "Mungkin
saja September mendatang produksi teh bisa kosong," jelas Endang.
Sekadar gambaran, produksi rata-rata teh per tahun dari perkebunan PTPN
mencapai 2.500 ton per hektare (ha), perkebunan rakyat 700 kg-800 kg
per ha, dan perkebunan swasta 1,5 ton-2 ton per ha.
Meski
terjadi kenaikan harga jual dari perusahaan, namun harga jual teh petani
menurut Endang relatif stabil. Dari awal tahun, harga jual teh milik
petani hanya berkisar Rp 1.700 per kg sampai Rp 1.800 per kg. Catatan
saja, kondisi teh yang dijual petani masih dalam kondisi basah.
http://industri.kontan.co.id/news/musim-kemarau-tiba-harga-teh-terasa-manis/2012/06/27
|