|
Senin, 02 Juli 2012
Oleh: Jagad Ananda
INILAH.COM, Jakarta - Gonjang-ganjing yang melanda
perekonomian sejumlah negara maju membuat banyak investor mati langkah.
Tak terkecuali eksportir karet alam. Selain permintaannya turun, harga
si melar ini juga terus merosot.
Di awal tahun, di
pasaran dunia, karet masih dijajakan dengan harga US$3,3 per kilogram.
Tapi kini hanya tinggal US$2,8 saja alias jauh dari harga ideal yang
US$4. Efek domino dari pelemahan ini langsung berimbas pada kalangan
petani. Mereka menjerit lantaran getah yang mereka sadap hanya dihargai
Rp8.000 per kilo. Itu berarti turun 47% dibanding harga yang terbentuk
di awal tahun (Rp15.000).
Fakta itulah yang mendorong Malaysia dan
Thailand, dua negara sesama produsen karet terbesar di dunia, mengajak
Indonesia untuk mengurangi ekspor. Asal tahu saja, tiga negara ini
merupakan pemasok 70% kebutuhan karet dunia.
Namun, entah kenapa,
ajakan ini ditolak. Menurut Deddy Saleh, Dirjen Perdagangan Luar Negeri,
RI belum akan mengikuti ajakan tersebut. “Kami serahkan kepada
eksportir, karena pemerintah tidak boleh mengeluarkan larangan,”katanya.
Sementara untuk menolong nasib petani, kalau perlu, Kementrian
Perdagangan akan menetapkan harga pokok pembelian alias HPP.
Belum
jelas benar pada harga berapa HPP tersebut akan dipatok. Yang jelas,
lesunya perekonomian dunia membuat volume dan nilai ekpor dari si melar
menurun secara signifikan. Paling tidak, secara volume, ekspor akan
menurun sekitar 10%. Sementara penurunan nilainya, karena harga turun,
dipastikan akan lebih besar lagi. Asal tahu saja, dari ekspor karet
tahun lalu Indonesia mengantungi devisa tak kurang dari US$11,76 miliar.
[mdr]
http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1877987/ketika-harga-karet-mengkeret
|