|
Senin, 30 Juli 2012
Doddy Wisnu Pribadi
TOKYO, KOMPAS.com- Teh di negeri Jepang semula bukan
dimanfaatkan sekadar sebagai minuman konsumsi seperti sekarang. Teh
merupakan tanaman berharga yang secara hati-hati dan rahasia ditanam dan
dimanfaatkan oleh para pendeta Zen-Buddhisme, sejak sekitar tahun 800
tahun lalu.
Di Jepang masa kini, teh sudah berevolusi luas, selain menjadi minuman botolan bahkan sudah menjadi es krim.
Bangsa
itu memang unik. Mereka bisa mempertahankan tradisi berdampingan dengan
modernitas. Seperti misalnya pada teh itu. Tradisi dan bisnis memijat
teh juga masih hidup hingga kini berdampingan dengan es krim teh.
Sejumlah
wartawan Indonesia berkesempatan mengikuti tour teh ini di kota
kebudayaan Jepang yang amat jadul, Kyoto. Kota asal ibukota Jepang pada
mula berdirinya pemerintahan di Jepang sebelum berpindah ke Tokyo pada
abad ke-12.
Sungguh menarik, di Kyoto rumah-rumah yang masih
dihuni hingga kini berumur antara 50 hingga 100 tahun, bahkan lebih.
Rumah-rumah itu masih dalam keadaan yang sangat baik dan nyaman
ditempati.
Situs budaya Kyoto, seperti rumah pendiri Jepang,
terpelihara secara berkelanjutan dari abad ke-12 sampai kini. Meski
kotanya sangat modern, tempat-tempat wisata penting di Kyoto tetaplah
tempat wisata peziarahan. Yakni lokasi-lokasi berdirinya bangunan
kepercayaan Zen atau Shinto atau Buddhisme yang di Kyoto saja ada 17
lokasi.
Ribuan warga Jepang dan turis internasional berdatangan
210 jutaan orang setahun di satu kuil, untuk menguji peruntungan dengan
membunyikan genta, atau menulis permohonan pada secarik kertas untuk
ditempel di dinding kuil.
Teh mengalami adaptasi kebudayaan terus
menerus, bersama kebudayaan tua lain di Jepang. Bahkan, warga Jepang
sendiri yang mengonsumsi teh sudah tak menyadari lagi betapa mengakarnya
sebenarnya budaya teh ini dalam tradisi hidup sehat dan makanan
sehari-hari.
Teh masih diproses dalam format tradisionalnya sejak
abad ke-12, namun juga sudah berada di mall, stasiun dan restoran dalam
bentuk menu es krim. "Bahkan ada restoran yang secara khusus bertema
teh," kata instruktur teh Ocha (teh olahan khas Jepang) Yasuhi Ro Hachi
Nasu (35).
Meski asalnya tetap tanaman teh (Camellia sinensis)
sama pada budaya teh negara-negara lainnya, namun teh di Jepang disebut
Ocha. Berbeda dengan teh di Indonesia, pada ocha daun dan ranting teh
mengalami perlakuan, dan menghasilkan sembilan jenis ocha.
Masing-masing
ocha memiliki variasi gurih, pahit, dan berhubungan dengan gaya hidup
penggunaannya. Gaya hidup dimaksud, misalnya, diminum sebelum makan
atau sesudah makan, pagi atau sore, bersama teman atau sendiri, pada
acara resmi, atau bahkan pada acara minum teh, hingga teh yang telah
dijadikan bahan baku es krim.
Variasi prosesnya juga membentuk
variasi teknik budidayanya di perkebunan teh. Belakangan, teh mengalami
banyak adaptasi untuk tujuan komersial, industrialisasi, dan
komodifikasi, bahkan reproduksi gaya hidup.
Hal terakhir ini yang
segera akan melaju sebagai komoditas komersial pada negara-negara
sasaran pasar konsumsi seperti Indonesia, sebagaimana produk Jepang
lainnya. Termasuk restoran cepat saji makanan Jepang yang sudah terkenal
di Indonesia itu.
http://internasional.kompas.com/read/2012/07/06/12061315/Di.Jepang.Teh.Juga.Jadi.Es.Krim
|